Kuliah di University of People

Mulai November ini saya resmi memulai kuliah di University of the People (UoPeople).

Adakah yang pernah mendengar tentang UoPeople? Saya pertama tahu tentang universitas ini dari videonya Nash Daily di sini dan ini. Awalnya, ya, sekedar tahu saja, tapi belakangan ini saya membutuhkan tantangan baru dan pingin sekolah lagi. Jadi setelah menimbang berbagai universitas, saya putuskan memilih universitas ini.

Apa kelebihan UoPeople dibanding yang lain? Seperti sudah dijelaskan Nash di videonya bahwa UoPeople: 100% online, free tuition (‘gratis’) dan American Accreditated University atau universitas yang sudah terakreditasi di Amerika. Saya beri tanda kutip pada kata ‘gratis’ karena UoPeople menggratiskan biaya-biaya yang biasanya dikeluarkan mahasiswa umumnya, seperti uang gedung, bayar KRS, dan lain-lain tapi kita masih harus membayar biaya dasar, yaitu:

  • Pendaftaran sebesar $60 atau Rp850.000.
  • Biaya ujian untuk Undergraduate (S1) sebesar $120 atau Rp1.700.000 serta $240 atau Rp3.400.000 untuk level Graduate atau Master Degree (S2).

Bagi mereka yang hanya ingin ikut kuliah tanpa mengikuti ujian juga bisa, dan artinya hanya perlu membayar uang pendaftaran tapi tentunya tidak bisa ikut ujian atau mendapatkan ijazah tanda kelulusan. Selain itu tersedia juga berbagai pilihan beasiswa walau tentu saja melalui proses seleksi yang ketat.

Saya mendaftar jurusan Master of Education (M.Ed) dengan perkiraan biaya sampai lulus sebesar $3180-$4140 atau sebesar Rp45-58 juta. Ketika pendaftaran kemarin saya sudah mencoba mengajukan beasiswa tapi belum lolos. Saya berencana mengajukan beasiswa lagi tahun depan.

Sebagai syarat mengikuti perkuliahan kita harus mengikuti kelas Bahasa Inggris, kecuali bagi mereka yang bisa menunjukkan bukti kemampuan berbahasa Inggris dengan melampirkan copy ijazah atau sertifikat terkait. Berikut informasi resminya:

Atau bisa juga melampirkan hasil tes Bahasa Inggris dari beberapa lembaga, sebagai berikut:

Saya sendiri memilih mengikuti kelas Bahasa Inggris karena memang ingin belajar secara langsung kelas menulis Bahasa Inggris untuk keperluan akademik.

Kelas ENGL 0101

Untuk mengikuti kelas English Foundation Course atau Kursus Dasar Bahasa Inggris dengan kode ENGL 0101 ini kita tinggal mendaftar di halaman muka UoPeople. Jadi nanti prosedurnya, setelah kita mendaftar, akan ada notifikasi di email kita yang menginformasikan ID dan password kita. Dengan ID tersebut kita bisa akses website UoPeople untuk melihat mata kuliah yang ditawarkan dan mendaftar course/kelas yang kita inginkan.

Untuk kelas ENGL 0101 ini selain mendaftarkan diri kita juga harus menyiapkan proctor (pengawas ujian). Jadi nanti di akhir perkuliahan akan ada ujian yang dilakukan secara online dengan diawasi pengawas ujian. Ada dua pilihan proctor: online atau offline. Kalau mau memakai online proctor, kita mesti mendaftar (link sudah tersedia di halaman UoPeople namun mereka berasal dari lembaga penyedia jasa proctor berbayar-bukan institusi di bawah Uopeople). sedangkan offline proctor, mesti kita cari sendiri dengan mengikuti syarat-syarat yang dicantumkan, di antaranya bukan anggota keluarga atau teman, orang yang memilik reputasi bagus, memiliki email, dan bersedia hadir mengawasi saat ujian dilaksanakan. Jika memakai jasa online proctor kita harus membayar (standarnya $25-30 per jam), sebaliknya untuk offline proctor kita dilarang membayar atau menawarkan kompensasi sejenis. Mungkin mereka khawatir jika ada bayaran akan memunculkan kemungkinan ‘kerjasama’ yang membuat hasil tes tidak bisa dipertanggungkan keasliannya.

Saya memilih offline proctor. Saya meminta rekan kerja suami saya yang juga bekerja sebagai dosen untuk menjadi pengawas ujian. Setelah orang tersebut setuju, saya mengisi form pengajuan offline proctor dengan memasukkan nama lengkap calon proctor, nomr telepon, alamat domisili, profesi dan alamat email. Setelah kita mengisi persyaratan tersebut, secara otomatis akan terkirim undangan ke calon proctor untuk menyatakan kesediaan mereka. Kalau proctor yang kita ajukan tidak menjawab/menerima email konfirmasi dari kampus UoPeople otomatis pengajuan proctor kita ditolak, yang artinya kita tidak terdaftar dalam kelas tersebut.

Saya mengalami pengalaman pahit ini. Pendaftaran saya ditolak karena masalah sepele: proctor yang saya ajukan tidak melihat email konfirmasi dari kampus. Karena tidak melihat otomatis dia tidak mengonfirmasi. Saya sendiri tidak mengingatkan calon proctor karena belum tahu prosedurnya. Setelah menerima email yang menyatakan kegagalan mendaftar kelas karena tidak ada konfirmasi dari proctor, saya baru kalang kabut. Saya segera koordinasi dengan Program Advisor (PA). Oya PA ini semacam dosen pembimbing kalau di Indonesia. Jadi dia yang akan membantu kita kalau ada masalah-masalah akademik. Kita akan mendapat PA begitu diterima menjadi mahasiswa di UoPeople. Singkat cerita PA mengabari saya kalau akan ada pembukaan pendaftaran lagi tepat 4 hari sebelum kelas dimulai. Saya pun menyambut gembira informasi tersebut, segera berkoordinasi dengan calon proctor dan mendaftar kali kedua. Alhamdulillah sukses.

Model Belajar di UoPeople

Saya baru memulai perkuliahan sejak 11 November 2021 atau 4 hari sebelum saya menulis artikel ini. Tentunya masih banyak hal baru dan saya juga masih dalam proses adaptasi. Bisa jadi tulisan ini kurang valid dan akan saya update di waktu yang akan datang. Namun setidaknya akan saya rekap proses yang saat ini saya jalani.

Model pembelajaran di UoPeople 100% online atau menggunakan sistem asinkronus. Jika sistem sinkronus berarti sistem komunikasi tatap muka di waktu yang sama maka asinkronus sistem komunikasi (baca: pembelajaran) yang dilakukan dalam waktu berbeda melalui media perantara. Media yang dipakai di UoPeople adalah Moodle. Kita tinggal join menggunakan ID dan password kita untuk website UoPeople (ID/password bisa sama bisa juga kita buat berbeda) dan otomatis kita akan terhubung dengan kelas yang kita ambil di semester tersebut.

Oya sebelum perkuliahan dimulai ada Student Orientation atau Orientasi untuk semua mahasiswa untuk mempelaajri model pembelajaran di UoPeople. Usahakan mengikuti Orientasi ini, sehingga kalian sudah siap saat perkuliahan dimulai.

Model belajar di UoPeople dibagi menjadi unit-unit, biasanya 1 course memiliki sekitar 9 unit. Satu unit diampu oleh 1 instruktur, dilaksanakan selama sepekan dan terbagi menjadi 5 aktivitas, yaitu Learning Guide, Discussion Forum, Written Assignment, Learning Journal, dan Self Quiz. Kelas (sesuai unit) akan dimulai dari Kamis sampai Rabu (waktu UoPeople).

Hari Kamis di pekan berikutnya, kelas akan membahas unit berikutnya. Artinya semua tugas di unit sebelumnya sudah selesai. Kita tidak bisa terlambat mengumpulkan tugas karena begitu berganti unit bahasannya sudah berbeda.

Saya akan bahas satu persatu deskripsi dari masing-masing aktivitas dalam satu unit.

  • Learning Guide (LG) berisi penjelasan topik yang dibahas dalam pekan tersebut. Ada judul unitnya, tujuan dan target di akhir pembahasan dan penugasan terkait topik tersebut.
  • Discussion Forum (DF) merupakan forum diskusi dari semua siswa. Instruktur akan memberikan penugasan pada semua siswa yang harus diunggah di DF. Lalu setiap siswa harus memberikan penilaian 1-10 pada 3 siswa lain dengan mengikuti panduan penilaian. Selain memberikan nilai, semua siswa juga wajib memberikan respon pada minimal 3 siswa lain. Dengan cara ini meskipun kelasnya memakai sistem asinkronus tetap ada interaksi antarsiswa.
  • Written Assignment (WA) merupakan penugasan menulis sesuai topik pekan itu. Kita harus mengunggah ttugas menulis dengan mengikuti panduan dari instruktur. Tugas WA kita ini juga akan dinilai oleh 3 teman lain, selain diperiksa oleh instruktur. Ada panduan sangat detil dalam memberikan penilaian, misalnya apakah tulisan tersebut menjawab pertanyaan yang merupakan tema dari WA? Ada tidaknya kesalahan tulis atau penggunaan grammar yang kurang tepat? Juga apakah susunan antarkalimat terpadu dan koheren?
  • Learning Journal (LJ) semacam catatan yang dibuat siswa di setiap unit. Biasanya ada panduan dari instruktur mengenai pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab dalm LJ. LJ ini merupakan proses untuk memastikan semua siswa memahami topik yang dibahas. Tugas LJ ini akan diperiksa langsung oleh instruktur.
  • Self Quiz merupakan latihan mengerjakan ujian. Setiap selesai 1 unit pertanyaan akan bertambah sesuai pembahasan di unit tersebut. Siswa bisa latihan menjawb pertanyaan-pertanyaan tersebut sampai ujian yang sebenarnya di akhir semester.

Jadi tidak ada kuliah langsung (sistem sinkronus) di UoPeople. Tidak ada zoom atau Google Meet. Semua bahan ada di Moodle dan bisa diakses kapan aja selama satu minggu. Respon-respon di DF dan WA juga bisa dilakukan dalam waktu satu minggu. Tapi sebaiknya tidak mengumpulan tugas di hari-hari yang mepet dengan Rabu karena artinya tidak akan cukup waktu bagi teman-teman untuk memberikan penilaian terhadap tugas-tugas kita.

Teman dari Berbagai Negara

Salah satu hal yang saya sukai dari kuliah di UoPeople ini adalah teman-teman dari berbagai negara. Di kelas ENGL 0101 yang saya ikuti, ada siswa dari Vietnam, Filipina, Bhutan, Jepang, Maroko, Nicaragua, Brazil, Bangladesh, Argentina, Afrika Selatan, Maroko, dan Haiti. Ada yang masih berumur 18 tahun dan baru mau memulai kuliah. banyak pula yang sudah selesai S1 dan mau ambil S2. Ada yang berprofesi sebagai pengacara, sarjana teknik, penerjemah, petugas kesehatan, dan lain-lain. Senang sekali mengetahui latar belakang mereka bergabung dengan UoPeople. Ada banyak cerita dan cita-cita. Dan semuanya bersemangat, ingin belajar dan menggapai sukses melalui UoPeople.

Instukturnya sendiri berasal dari Amerika tapi saat ini dia tinggal di Beijing, Cina. Saya membayangkan, posisi kami berjauhan, terpisah negara bahkan benua namun kami belajar bersama. Internet telah memupus jarak dan keterbatasan.

Untuk saat ini baru itu cerita-cerita dari UoPeople. Tunggu cerita-cerita seru selanjutnya ya…! 🙂

Link Buku dan Cerita Anak Gratis

Ingin membacakan buku untuk anak tapi terkendala koleksi? Atau mau membelikan buku untuk hati tapi kantong tipis? Jangan khawatir, saat ini banyak website yang menyediakan buku-buku bagus dan gratis. Berikut beberapa rekomendasinya. Bisa langsung klik untuk menuju website masing-masing, ya!

Let’s Read

Proyek buku online ini diinisiasi oleh The Asia Foundation dengan melibatkan banyak lembaga dan praktisi di Asia. Buku-bukunya dipilih dengan cermat, mewakili budaya setempat, dengan ilustrasi dan penceritaan apik, sesuai dengan usia pembaca. Tersedia buku dengan 48 bahasa (termasuk bahasa daerah), di antaranya bahasa Indonesia, Jawa, Melayu, Minangkabau, Batak dan masih banyak lagi. Tersedia juga aplikasi ini untuk memudahkan membaca e-book melalui ponsel.

Literacy Cloud

Merupakan website berisi buku digital dan video membaca nyaring di bawah ‘payung’ ‘Room to Read’, organisasi nirlaba yang berkantor pusat di San Fransisco, California. Seperti Let’s Read yang menawarkan buku beragam bahasa, Literacy Cloud juga menghadirkan koleksi buku dengan 20 pilihan bahasa, di antaranya Arab, Inggris, Bahasa Indonesia, Filipino, Urdu, dan lain-lain.

Buku Digital Kemdikbud

Saya belum lama memanfaatkan website ini. Isinya cukup lengkap dan menarik. Ada banyak pilihan buku digital dengan pilihan 3 bahasa: Indonesia, Inggris, dan Daerah. Ada juga pilihan buku berdasar jenjang PAUD, TK, SD Kelas bawah (1-3), SD kelas atas (4-6), SMP, SMA dan Umum. Kita juga bisa memilih buku berdasar temanya, misalnya Tokoh Indonesia, Petualangan, Alam dan Lingkungan, dan lain sebagainya. Oya ada juga koleksi audio berisi rekaman pembacaan buku yang mengingatkan saya saat mendengar cerita di radio puluhan tahun silam. Ada back sound musiknya juga, lho!

E-Book Gerakan Literasi Nasional (GLN)

Buku bacaan di website ini dibagi dalam 3 kelompok besar, yakni GLS (Gerakan Literasi Sekolah), GLK (Gerakan Literasi Keluarga), dan GLM (Gerakan Literasi Masyarakat). Kita tinggal pilih salah satu buku. Saat kita klik gambar buku, layar laptop atau hp kita akan diarahkan pada buku berbentuk PDF. Berikut tampilannya:

Bacaan Literasi 2019

Terdapat 135 koleksi yang secara khusus dibuat oleh Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Cerita Rakyat Nusantara

Website ini secara unik menyajikan cerita-cerita rakyat, khususnya asal usul suatu daerah. Di bagian atas halaman muka sudah ada pilihan 34 provinsi. Kita tinggal klik nama provinsinya dan akan muncul pilihan aneka cerita. Gambar di bawah ini adalah contoh cerita rakyat di Yogyakarta.

Rumah Kurcaci Pos

Website ini lebih seperti kumpulan cerita pendek (cerpen) anak. Sebagain besar (atau malah semua-saya belum baca semua) cerpen anak di website ini sudah dimuat di majalah Bobo. Saya seperti nostalgia saat membaca cerpen-cerpen di sini karena saat masih kecil saya suka sekali membaca majalah Bobo. Website ini juga bisa menjadi alternatif bacaan untuk anak usia SD yang sudah lancar membaca sendiri.

Selamat membaca!

Layanan Ramah Anak

sumber gambar: freepik

Beberapa hari yang lalu saya menemani Lili, anak kedua saya, ke dokter gigi. Di rahang bawah depan, ada gigi baru yang tumbuh di tempat yang tidak seharusnya. Biasanya gigi baru tumbuh di bawah gigi lama. Jadi saat gigi baru makin tinggi, otomatis dia menyundul gigi lama, lalu gigi lama akan terdorong ke atas, goyang, lalu lepas. Ketika gigi lama lepas, tentu ada ruang untuk gigi baru untuk tumbuh normal.

Gigi baru Lili tumbuh di belakang gigi lama. Sebetulnya tidak sakit dan baru banget munculnya. Karena gigi baru tumbuhnya di belakang, gigi lama masih sehat, kokoh, dan kuat. Kalau gigi baru tumbuh makin tinggi, akan ada gigi rangkap, saya jadi khawatir ada masalah ke depannya dan secara estetika jadi kurang rapi.

Kami pergi ke klinik langganan karena bekerjasama dengan asuransi kesehatan yang kami pakai. Pelayananya bagus. Bisa membuat janji terlebih dahulu, dan jarang sekali antri. Petugasnya juga ramah. Tempatnya bersih dan biasanya lengang jadi saya merasa aman berobat di tengah pandemi covid 19.

Singkat cerita, kami datang dan segera masuk ke ruang praktek dokter gigi. Dokter giginya perempuan, relatif muda, mungkin berusia 30-40 tahun. Dia menanyakan ada keluhan apa, dan secara singkat saya ceritakan kondisi di atas. Lili diminta berbaring dan membuka mulut. Ibu dokter mengambil alat seperti tang lalu mencoba menggoyang gigi depan.

Lalu dia menjelaskan kondisi Lili yang kurang lebih seperti yang kugambarkan di awal tulisan. Intinya, gigi baru perlu tempat tumbuh sementara gigi lama masih kuat dan kokoh. Kita tidak bisa menunggu gigi lama lepas sendiri karenanya tidak ada jalan lain, selain mencabut gigi lama. Nah, biar tidak sakit, gusi mesti dibius lokal, lalu gigi lama akan dicabut paksa.

Ibu dokter menjelaskan prosedurnya kepadaku. Lili mungkin belum paham 100% penjelasan tersebut, tapi dia sudah menangkap bahwa akan ada prosedur yang perlu dilakukan dan mungkin menyakitkan.  

Saya minta waktu sebentar untuk menjelaskan ke Lili. Lili mulai menangis karena takut. Saya berusaha menjelaskan bahwa gigi baru butuh tempat untuk tumbuh. Kita harus minta agar gigi lama bersedia diambil. Kasihan gigi baru tidak bisa tumbuh dengan baik kalau gigi lama tidak dilepas.

Lili menjawab kalau dia takut. Dia tidak mau disuntik dan takut merasakan sakit.

Saya bujuk lagi dengan mengatakan akan mendampingi dan memegang tangan Lili. Biasanya kalau Lili akan melakukan sesuatu yang baru, atau saat dia takut sesuatu, dia akan merasa tenang kalau memegang tangan saya. Perawat juga menawarkan pada saya untuk memangku Lili di kursi pasien.

Lili masih takut dan menangis. Saya peluk dan berusaha menenangkan dia.

“Jangan nangis! Kan belum diapa-apain. Kakak, kan, sudah besar, masak masih nangis. Anak yang lebih kecil saja, nggak nangis, lho. Nggak boleh nangis. Ayo, harus berani. Anak besar tidak boleh nangis!” kata si Ibu dokter.

Saya sebetulnya tidak setuju dengan kalimat-kalimat dari dokter tersebut.

Kalau memang dia menganggap Lili sudah besar, kenapa tidak dia coba jelaskan ke Lili prosedur yang mesti dilakukan, tentu dengan bahasa anak-anak. Misalnya, “Lili, ini ada gigi baru yang mau tumbuh. Tapi dia tumbuh di tempat yang salah. Harusnya dia tumbuh di bawah gigi lama, ini malah tumbuh di belakang. Jadi gigi depan harus diambil. Kasihan nanti gigi lamanya kalau tidak bisa tumbuh!”

Pasti anak merasa takut, orang dewasa saja banyak, kok, yang takut disuntik. Nah, biar anak merasa lebih tenang, bisa dijelaskan prosedurnya, “Nanti akan ibu dokter bantu biar tidak terasa sakit. Gusi depannya akan disuntik obat, biar nggak terasa sakit. Lalu giginya diambil. Sebentar kok, percaya, deh, Lili belum sempat merasakan sakit, giginya sudah Ibu dokter ambil!”

Untuk mengambil hati anak kecil, mungkin bisa dibujuk, “Nanti kalau sudah selesai, Lili akan ibu kasih stiker, sebagai hadiah untuk anak pemberani!”

—-

Saya tahu bahwa ibu dokter gigi bukan dokter anak jadi mungkin dia tidak belajar secara khusus mengenai psikologi anak. Klinik ini juga klinik umum yang mungkin tidak secara spesifik memberikan layanan khusus ramah anak. Tapi, kan, ada pasien-pasien anak lain. Seberapa susah sih, berkomunikasi dengan bahasa anak? Dan berapa, sih, harga stiker, atau hadiah-hadiah kecil buat penyemangat hati anak?

Saya rasa masalahnya bukan pada ketidakmampuan berkomunikasi atau tidak adanya dana namun lebih pada belum adanya perspektif tentang layanan ramah anak. Anak-anak masih dianggap masih kecil dan tidak paham, sehingga tidak perlu diperlakukan seperti orang dewasa. Mereka masih dianggap obyek yang seharusnya penurut dan taat pada orang dewasa.

Padahal anak usia 7 tahun seperti Lili sudah bisa mendengar dan memahami percakapan dengan baik. Saat dokter menjelaskan kondisi anak pada ibu, tentunya si pasien bisa mendengar dengan baik. Saya, kok, yakin, jika dokter mau menjelaskan ke anak, dengan bahasa yang dia pahami, si anak akan merasa lebih dihargai. Jika pun si anak belum/tidak terbiasa, ini akan menjadi latihan yang baik buat dia. Bahwa dia berhak tahu kondisinya dan proses pengobatan apa yang akan dia lalui.

Selain itu, ucapan-ucapan seperti ‘tidak boleh menangis’, apakah memang demikian? Menangis adalah reaksi yang spontan, normal, dan alami. Apa iya, kalau si ibu dokter kaget atau takut akan sesuatu, tidak akan menangis karena sudah besar? Kita sebagai orang dewasa juga sering menangis. Saya pikir ucapan-ucapan bahwa ‘anak besar tidak boleh menangis’ tidak produktif dan jauh dari kesan empatik.

Daripada mengucapkan kata-kata tersebut kenapa tidak menggantinya dengan, “Kakak takut, ya? Iya memang wajar kalau Kakak menangis karena takut sakit, makanya Ibu dokter akan bantu biar tidak terlalu sakit. Obat yang mau disuntikkan ini untuk membantu Kakak agar tidak merasa sakit!”

Tentu anak akan merasa lebih nyaman dan tenang mendengar ucapan tersebut.

Selain masalah komunikasi, saya tidak menyangsikan kualitas si Ibu dokter gigi. Saat mulai tenang Lili disuntik bius lokal, gigi dicabut, dan semua proses selesai selama kurang lebih 15 menit. Cepat, tuntas, tanpa Lili merasakan sakit berlebihan. Meskipun setelahnya dia mesti menggigit kain kasa selama kuranglebih 45 menit hingga darah berhenti.

Setelah proses selesai, si ibu dokter hanya berkata, “Sudah selesai, cepat, kan? Jangan minum panas selama 24 jam. Kain kasanya perlu rutin diganti, ya, bu kalau sudah kotor. Setelah ini beli es krim aja biar darahnya cepat berhenti!”

Tidak ada afirmasi positif, misalnya, “ Wah hebat, kakak berani!”

Kapan, ya, kita bisa memiliki layanan publik yang lebih ramah pada anak?

Naik Pesawat Saat PPKM

Demi menekan penyebaran virus covid 19, pemerintah mengeluarkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang berlaku sejak 3 Juli 2021 hingga hari ini. Salah satu pembatasan kegiatan, mengacu pada PPKM adalah persyaratan ketat bagi calon penumpang yang ingin melakukan perjalanan menggunakan pesawat udara. Melalui tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman menaiki pesawat saat PPKM.

Sepekan ini, saya naik pesawat dua kali yaitu tanggal 14 Agustus 2021 dan 20 Agustus 2021 dengan rute Jakarta-Banyuwangi pulang pergi. Kedua perjalanan tersebut saya menggunakan pesawat Citilink.

Apa persiapan yang perlu dilakukan?

1. Pastikan Anda sudah mendapat vaksin covid 19, minimal dosis pertama.

2. Instal aplikasi pedulilindungi di ponsel masing-masing. Buat akun dan pastikan data vaksin milik kita sudah update di aplikasi tersebut.

3. Bagi yang sudah menerima dua dosis vaksin, untuk ‘terbang’ hanya mensyaratkan tes swab antigen. Namun bagi mereka yang baru menerima dosis pertama, harus memiliki hasil tes negatif PCR. Aturan ini hanya berlaku untuk penerbangan di wilayah Jawa dan Bali. Untuk penerbangan dari dan ke luar Jawa, tetap wajib melampirkan hasil tes PCR.

4. Di bandara, silakan ketik NIK masing-masing di layar pedulilindungi, jika data vaksin, hasil PCR/antigen sudah masuk, akan tertera di layar “Anda Layak Terbang” namun jika hasil PCR/antigen belum update di aplikasi akan ada tulisan “Tidak Layak Terbang”.

5. Jika akun pedulilindungi milik Anda menyatakan “Tidak Layak Terbang”, jangan khawatir! Anda masih bisa terbang. Cari meja pengecekan/validasi data dan ikuti antrian di sana. Akan ada petugas yang memeriksa tanggal dan hasil PCR/antigen kita. Untuk PCR maksimal dilakukan 2×24 jam, antigen 1×24 jam. Pastikan tes yang Anda lakukan tidak melebihi jangka waktu tersebut.

6. Setelah rangkaian itu selesai, tinggal mengurus boarding pass pesawat. Kalau Anda membawa bagasi, mesti antri di counter check in maskapai. Kalau tidak membawa bagasi, bisa check in online di ponsel/komputer masing-masing, atau langsung print boarding pass di komputer yang tersedia bandara. Khusus di bandara Blimbingsari Banyuwangi, belum ada mesin self check in, jadi tetap harus antri di counter maskapai.

7. Instal aplikasi eHac Indonesia. Pilih akun/account, klik HAC, klik tanda tambah (+), pilih eHAC Domestic lalu masukkan data diri, alamat asal, alamat tujuan, data pesawat dan lain-lain. Jika Anda sudah mengisi data ini sebelum penerbangan, akan sangat menghemat waktu sebelum keluar bandara. Semua penumpang wajib mengisi data ini, jadi Anda akan menghemat waktu 15-30 menit jika sudah mengisi informasi tersebut.

Catatan tambahan untuk perjalanan dari bandara Soekarno Hatta, sediakan waktu 90-120 menit untuk mengurus proses validasi data PCR/antigen hingga siap boarding. Apalagi untuk jadwal penerbangan pagi dan hasil PCR/antigen kita belum muncul di aplikasi pedulilindungi. Anda akan menghadapi antrian panjang validasi data dua kali: saat masuk terminal dan menuju gate. Pintu gate juga rata-rata jauh, jadi akan butuh waktu jalan kaki 15-30 menit menuju gate masing-masing.

Penerbangan selama PPKM hanya bisa dilakukan oleh orang dewasa dan anak di atas usia 12 tahun yang sudah mendapat vaksin. Bagi yang memiliki kondisi kesehatan khusus sehingga tidak bisa vaksin bisa tetap terbang dengan melampirkan bukti kondisi tersebut.

Untuk tes PCR/antigen apakah harus dilakukan di RS khusus?

Saya sempat menelpon maskapai, dan jawaban mereka: sebaiknya pilih laboratorium/RS yang masuk dalam Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Daftarnya ada di sini. Laboratorium yang ada di daftar ini aktif melakukan pembaharuan data di New All Record (NAR), jadi seharusnya secara otomatis sudah muncul di aplikasi pedulilindungi kita.

Namun kenyataannya tidak sesuai informasi tersebut. Saya sudah melakukan tes antigen di RS Mitra Keluarga Cikarang yang laboratoriumnya termasuk dalam daftar Kemenkes. Namun di hari keberangkatan, saya cek di aplikasi pedulilindungi di bandara Soekano Hatta, hasil tes antigen saya belum tercantum di aplikasi. Alhasil saya mesti ikut antrian validasi data secara manual.

Berdasar pengalaman tersebut, saat hendak balik ke Jakarta saya tidak lagi memprioritaskan laboratorium yang masuk dalam daftar Kemenkes. Kebetulan juga di Banyuwangi hanya ada satu lab yang masuk dalam daftar tersebut dan lokasinya jauh dari tempat saya tinggal. Saya mengambil tes antigen di RS terdekat. Saya sudah tahu konsekuensi harus antri di meja validasi data manual, karenanya saya sediakan waktu yang cukup. Kebetulan saat itu hanya ada satu penerbangan di bandara Banyuwangi jadi tidak butuh waktu lama mengantri. Berbeda jauh dengan pengalaman mengantri di bandara Soeta yang memiliki banyak penerbangan hingga antriannya panjang dan lama.

Apakah pesawatnya penuh?

Tergantung pesawat dan rute tujuan. Pesawat Citilink yang saya naiki berisi 30-60 penumpang. Saat perjalanan dari Jakarta ke Banyuwangi, saya duduk sendiri di satu deret dengan 6 kursi penumpang. Rata-rata tiga kursi pesawat diisi dua penumpang, jadi kursi tengah sengaja dikosongkan untuk menjaga jarak. Ada juga sederet kursi di bagian belakang yang khusus disediakan untuk isolasi penumpang yang mendadak sakit.

Selama PPKM, penumpang tidak diijinkan makan dan minum di dalam pesawat. Jadi pastikan sudah mengisi perut di rumah atau di bandara sebelum masuk pesawat.

Saya merasa aman dan nyaman menaiki pesawat udara di masa PPKM ini. Memang terkesan ribet dan banyak persyaratannya, namun saya rasa aturan itu untuk kepentingan kita semua. Dengan memastikan semua penumpang sudah vaksin dan memiliki tes PCR/antigen negatif setidaknya kemungkinan penularan covid 19 bisa dikurangi.

Yuk, ikuti aturan PPKM ini dengan baik agar kita bisa saling jaga!

“Welcome Home, Daddy!”

Setelah 19 hari berpisah karena corona, alhamdulillah kami sekeluarga bisa berkumpul lagi di rumah. Kira-kira 16 hari yang lalu, suami saya, mas Muhammad Sigit Andhi Rahman positif covid 19 saat sedang tugas kerja ke Pekanbaru. Rencana dinas luar kota 4 hari akhirnya molor sampai 19 hari.

Selama di Pekanbaru mas Sigit sempat dirawat di RS kurang lebih 5 hari. Sempat pusing berat, diare, mual, saturasi turun hingga 92, alhamdulillah dengan bantuan tabung oksigen, saturasi normal lagi ke angka 98. Sempat juga isoman di LPMP Riau serta hampir seminggu di hotel.

Yang bikin nelangsa, sudah sempat negatif PCR pada hari ke-9 jadi kami semua bergembira menunggu ayah pulang. Anak2 dengan bersemangat membuat dekorasi seperti foto di atas. Namun apa yang terjadi? Empat puluh delapan jam kemudian hasil PCR positif lagi! Tiket pesawat terpaksa dibatalkan. Segera PCR lagi karena berharap hasil yang positif tidak akurat, namun ternyata, hasil PCR kembali positif. Tiket kedua dibatalkan lagi, dan mas Sigit mesti lanjut karantina. Kami mesti bersabar untuk bisa berkumpul kembali.

Tentu kecewa sekali mendengar hasil PCR yang sebelumnya negatif, kembali positif. Setelah membaca referensi, ternyata kasus seperti ini sering terjadi. Tes PCR memang sangat sensitif untuk mendeteksi materi genetik virus covid 19, bahkan ‘bangkai’ virus yang sidah tidak aktif turut terdeteksi. Ini pula yang menjadi alasan perubahan standar penentuan pasien bebas covid 19, yang sebelumnya mesti memiliki PCR negatif, sekarang tidak perlu PCR lagi. Cukup melewati masa isolasi 10 hari, dengan tambahan 1-3 hari tanpa perlu tes PCR lagi (kecuali pasien dengan gejala berat).

Meskipun kecewa, tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu dengan sabar. Selama seminggu kami memupuk harapan. Mas Sigit berusaha mempertahankan kondisi agar makin sehat dengan makan bergizi, istirahat cukup, olahraga, kami pun di sini tak henti berdoa. Kami sempat mempertimbangkan berbagai kemungkinan apabila hasil PCR positif lagi. Jelas tidak bisa naik pesawat karena selama PPKM, calon penumpang wajib melampirkan PCR negatif (serta sertifikat vaksin). Sementara kalau mau menunggu untuk tes, mau berapa hari lagi. Tes PCR juga tidak murah, meskipun biaya ditanggung kantor, tentu tidak bisa tiap 2 atau 3 hari tes PCR. Kalau menunggu selesai PPKM masih 10 hari an lagi yang rasanya lama banget.

Mas Sigit sempat memikirkan alternatif naik bus, tapi perjalanan Pekanbaru-Jakarta membutuhkan waktu 36 jam! Hampir 2 malam. Perjalanan darat hanya membutuhkan antigen negatif, sempat ada pertimbangan untuk tes antigen, siapa tahu hasilnya negatif. Tapi perjalanan darat sebegitu lama, dengan kemungkinan berinteraksi dg orang-orang di masa PPKM ini, rasanya bukan pilihan yang baik.

Sebagai catatan, sebetulnya kondisi mas Sigit kala itu sudah dinyatakan sehat. Pada hari pengambilan tes PCR jg sdh hari ke-16, jadi seharusnya memang sudah sehat dan tidak menularkan lagi. Karenanya kami mempertimbangkan perjalanan darat yang akhirnya juga tidak akan diambil karena berat dan kemungkinan terpapar covid lagi malah lebih besar.

Tibalah hari Sabtu, 10 Juli, jadwal tes PCR penentu. Ini mungkin biasa bagi orang lain, tapi buat kami ini penting sekali untuk menentukan kami bisa segera berkumpul lagi atau tidak. Sehari sebelumnya saya minta doa-doa terbaik dari teman dan keluarga. Malamnya saya juga sempat tidak bisa tidur, mungkin secara psikologis saya khawatir jika hasilnya tidak sesuai harapan kami. Alhamdulillah, Allah kabulkan doa-doa kami, teman dan keluarga. Hasil PCR mas Sigit negatif yang artinya bisa naik pesawat dan kembali berkumpul bersama keluarga. Kemarin, dekorasi ini kami perbaiki lagi. Balon-balonnya sudah pada meletus 😁 dan hanya menyisakan tiga.

“Welcome Home, Daddy!”

Alhamdulillah Allah masih beri kesempatan bertemu dan berkumpul kembali. Teriring doa untuk teman-teman dan keluarga yang sedang diberi ujian sakit, khususnya covid 19, semoga Allah berikan kekuatan, kesabaran, dan kesembuhan. Aamiin.

Menjelajah Eksotisnya Teluk Hijau

Banyuwangi memiliki destinasi yang serasa tidak habis-habis dijelajahi. Betapa beruntungnya masyarakat yang tinggal di kabupaten yang berjuluk The Sunrise of Java ini. Betapa tidak? Di ujung utara, ada Taman Nasional Baluran, yang menawarkan keindahan alami savana, hutan, serta deretan pantai-pantai berombak ringan dengan pemandangan bawah laut yang memesona. Sementara di sisi selatan, terdapat taman Nasional Meru Betiri, Alas Purwo dengan koleksi flora serta fauna yang menggoda untuk dijelajahi. Juga deretan laut-laut berpasir putih yang memukau pandangan mata.

Kali ini, saya dan keluarga menjelajahi destinasi tersembunyi. Butuh usaha yang tidak ringan untuk mencapainya, namun sepadan dengan eksotisme pemandangannya. Tempat itu adalah Teluk Hijau atau masyarakat sekitar menyebutnya Teluk Ijo.

Berlokasi di dusun Krajan, desa Sarongan, kecamatan Pesanggarana, Teluk Hijau tepat berada di balik deretan bukit terjal di sebelah Pantai Rajegwesi. Jika ingin ke sana kita mesti menuju kecamatan Pesanggaran yang berjarak kurang lebih 90 km dari kota Banyuwangi. Lokasi pantai ini searah dengan Pantai Pulau Merah, Mustika, Pancer, dan Sukamade. Wisatawan yang menuju Pantai Sukamade umumnya singgah di pantai ini.

Dari kawasan Pulau Merah, Teluk Ijo masih berjarang kurang lebih 25 meter. Ikuti saja arah yang ditunjukkan GPS hingga kita memasuki kawasan Perkebunan Sungailembu. Di kanan kiri jalan kita disuguhi pemandangan hijau segar. Ada banyak jenis pohon, tapi saya hanya mengenali pohon karet dengan bekas sayatan di batang. Di salah satu kebun terdapat informasi bahwa saat itu sedang ada penebangan pohon, oleh sebab itu pengunjung diminta berhati-hati. Sayangnya makin dekat ke pantai, jalan makin jelek. Jalan tanah berbatu dengan lubang di sana sini. Bagi pengunjung yang membawa mobil kecil rendah seperti kami, tidak ada jalan lain selain mengemudi dengan kecepatan rendah. Waktu tempuhnya jelas lebih lama, tapi lebih aman karena tidak perlu merasakan guncangan-guncangan keras kala ban melindas batu dan melintasi lubang.

Kawasan perkebunan Sungailembu

Lalu kita akan bertemu pintu gerbang Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). Saat ke sana akhir Mei 2021 lalu, saya membayar tiket masuk Taman Nasional Rp32.000 untuk satu mobil, 2 dewasa, 1 anak remaja, 1 anak usia 7 tahun, dan 1 bocah balita. Biaya yang saya keluarkan terkait retribusi hanya di sini saja, kami tidak diminta membayar parkir lagi di Pantai Rajegwesi. Saat membayar tiket, pengunjung diminta mengisi buku tamu dengan mencantumkan nomor telepon genggam.

Dari pintu gerbang TNMB kami melanjutkan perjalanan ke arah pantai Rajegwesi. Bagi pengunjung yang ingin menjangkau Teluk Ijo menggunakan perahu, parkirlah kendaraan di kawasan Pantai Rajegwesi. Saat kita sampai akan terlihat perahu-perahu di pantai. Ada kedai-kedai makanan, mushola, dan toilet. Tidak perlu khawatir, tak perlu mencari-cari perahu, biasanya saat kita sampai akan ada nelayan yang menghampiri dan menawarkan jasa menyeberang. Ongkos naik perahu per orang (di saat ramai) Rp35.000 atau Rp50.000 di kala sepi.

Jika enggan membayar ongkos perahu atau takut menaiki kapal, pengunjung bisa juga mencapai Teluk Ijo dengan berjalan kaki. Lanjutkan perjalanan dari Pantai Rajegwesi hingga mencapai Teluk Damai. Dari sana lanjutkan perjalanan mendaki bukit sepanjang kurang lebih 1 km ke arah pantai Batu. Pantai Batu berada 300 m sebelum Teluk Ijo. Waktu pendakian hingga mencapai Teluk Ijo kurang lebih 1 jam.

Pantai Rajegwesi

Dua puluh empat tahun yang lalu, saya menjangkau Teluk Ijo dengan mendaki bukit. Kali ini, dengan membawa 3 anak, salah satunya balita, kami memilih menaiki perahu. Total ongkos yang kami bayar Rp200.000 satu perahu PP (pergi pulang).

Singkat cerita, kami menaiki perahu menuju Teluk Ijo. Lama perjalanan kurang lebih 15 menit. Kami mengarungi laut yang biru jernih dengan deretan bukit terjal hijau di sisi kanan. Laut terlihat dalam karena tidak terlihat dasarnya. Ombak tidak terlalu besar namun perahu tetap bergoyang-goyang. Anak saya paling kecil, Ihsan, menangis saat pertama memasuki perahu. Tangisnya makin kencang saat perahu berjalan. Setelah beberapa saat dia berhenti menangis dalam dekapan suami saya. Ini memang pengalaman kedua dia naik perahu dalam jangka waktu seminggu. Semua penumpang memakai jaket pelampung untuk keamanan.

Saya sangat menikmati pemandangan saat menyebarang menggunakan perahu. Cuaca cerah, langit berwarna biru terang. Air laut tampak jernih berkilauan. Terlihat perahu-perahu nelayan di kejauhan. Riak ombak membuat perahu bergoyang, dengan kecipak air di sana sini. Kami sekeluarga sudah memakai pakaian renang jadi tidak masalah dengan baju basah. Saat menuju Teluk Ijo, sebaiknya bawa barang secukupnya dengan tas tertutup rapat.

Sesampainya di Teluk Ijo, saya langsung terpaku dengan pemandangan yang indah memesona. Pasir pantai yang berwarna putih kecokelatan terlihat kontras dengan warna air laut biru kehijauan. Batu-batu cadas dengan hutan di sekelilingnya mengingatkan saya akan film lama, Cast Away. Saat kapal merapat sekitar pukul 10.00 pagi pantai masih sepi. Anak pertama saya, Sofie menyeletuk, “I hope we are not the only one who come here today.” Agak ngeri juga kalau sepi dan hanya kami sekeluarga di pantai ini. Soalnya seusai mengantar kita, perahu akan kembali ke Rajegwesi. Jadi terbayang jika hanya sekeluarga, apalagi sendiri, akan terasa memiliki pantai sendiri.

Tapi kekhawatiran Sofie tidak terbukti. Tak lama setelah kami sampai, datang serombongan anak muda dari arah hutan. Mereka langsung mengambil tempat di sisi utara yang penuh batu karang. Suara tawa riang dan antusiasme mereka mengambil foto terdengar dari kejauhan. Kami duduk-duduk santai, anak-anak bermain pasir dan ombak. Saya mengeksplorasi pantai. Sisi utara pantai memang spot pertama yang dijangkau pengunjung yang datang berjalan kaki. Ada batu-batu besar, dengan air jernih dan ikan-ikan kecil berenang di sana. Sisi selatan, juga dipagari dengan karang terjal. Ada air terjun yang saat itu kering. Air terjun ini hanya ada airnya di musim hujan, sekitar bulan Desember-Februari. Ada bangku-bangku untuk duduk. Tidak ada kedai makan, toilet dan ruangan berganti pakaian.

Satu lagi yang sangat penting dan mesti diwaspadai. Kawanan MONYET. Beberapa menit setelah kami tiba di pulau, mereka sudah menguasai bangku dan memandang kami penuh minat. Mas Eko, nelayan yang mengantar kami sudah berpesan, semua makanan harus disimpan rapi di dalam tas tertutup. Jangan meninggalkan tas jauh dari jangkauan, apalagi menggelar makanan. Ada banyak monyet usil dan agresif.

Untung kami membawa tas ransel dan tas makanan jinjing besar. Saya ingat baik-baik pesan tersebut. Sampai Lili kelilipan dan minta diambilkan handuk. Saat mengambil handuk, tanpa sengaja saya mengeluarkan keripik kentang yang masih dalam kemasan bersegel. Sibuk mengurus anak-anak, saya lupa memasukkan kembali keripik kentang tersebut ke dalam tas. Tidak menunggu lama, seekor monyet menyambar keripik tersebut dan ngacir diikuti kawanan mereka. Kami terpukau, kaget, sempat takut disusul tawa geli anak-anak.

“Can the monkey open the chips, Mommy?” Tanya Lili.

Saya jawab, pasti bisa. Mereka memiliki cakar tajam. Dan kemungkinan besar ini bukan pertama kali mereka mencuri makanan. Jadi pasti mereka sudah ahli membuka makanan kemasan seperti tadi.

Sesiang itu saya melihat si monyet beberapa kali mencuri sesuatu dari pengunjung lain. Bahkan ada satu tas pengunjung yang dia bongkar. Dengan lihai si monyet memasukkan tangannya ke laci-laci ransel, mencari makanan. Saat diteriaki pemilik tas, dia lari, tapi kemudian balik lagi.

Saat kami makan siang, mereka (monyet-monyet itu maksudnya) mengawasi kami dengan ‘ganas’. Seakan-akan mereka menunggu saat yang tepat untuk meloncat dan merebut makanan kami. Padahal selama kami makan, mas Sigit berdiri siaga sambil membawa pentungan kayu seukuran paha orang dewasa. Tapi mereka tidak menunjukkan raut takut sedikit pun malah balik menyeringai galak. Alhasil kami sendiri yang ‘keder’ lalu mempercepat proses makan siang dan berpindah ke area yang lebih ramai.

Makin siang, makin banyak orang datang, tambah besar juga ombaknya. Anak-anak melipir ke pinggir, hanya berani bermain air di pantai, sambil membuat istana pasir dan mengumpulkan kerang.

Menjelang jam dua belas siang, Pak Supri yang pertama kali menawari kami perahu saat di Pantai Rajegwesi datang bersama dua perahu yang penuh berisi rombongan biker. Saat perahu kembali ke Rajegwesi, Pak Supri tinggal. Beliau duduk di samping kami dan mengobrol. Beliau bapak 3 anak laki-laki yang semuanya berprofesi sebagai nelayan serta menjual jasa mengantar wisatawan ke Teluk Ijo. Mas Eko yang tadi menganatr kami adalah putra ketiga beliau. Sebelum pandemi, setiap pekan mereka bisa dapat, minimal Rp1.000.000 dari jasa sewa perahu. Tapi setelah pandemi, dapat seperempatnya saja sudah beruntung.

Mengobrol bersama Pak Supri

Untung masih ada ikan-ikan yang menjadi mata pencaharian utama mereka. Bulan Mei-Juni ini musim ikan lemuru dan tongkol. Mereka biasa melaut malam hari. Di pantai sudah ada tengkulak yang menyambut dan membeli ikan-ikan mereka, jadi tak perlu repot menjual ikan ke pasar.

Menurut Pak Supri, setiap tanggal 1 bulan Hijriyah, ombak tinggi. Jadi perahu tidak berani mengantar wisatawan ke Teluk Ijo.

Setiap tanggal satu kalender bulan (Hijriyah) ombak tinggi jadi tidak aman ke Teluk Hijau menggunakan perahu

Pak Supri (pemilik perahu di Pantai Rajekwesi)

Pak Supri juga memberikan informasi bahwa laut di Teluk Ijo ini relatif aman untuk berenang asal tidak sampai ke tengah. Namun, wisatawan juga mesti memperhatikan ombak, jika makin tinggi sebaiknya segera menepi. Sebab beberapa saat lalu, ada 6 remaja tenggelam karena berenang dari jam 7.00 pagi hingga pukul 02.00 sore. Tiga di antara mereka ditemukan selamat, 3 yang lain meninggal karena terseret ombak. Jadi penting sekali untuk berhati-hati. Teluk Ijo ini tidak memiliki sarana prasana keselamatan. Tidak ada penjaga pantai juga. Tiap pengunjung mesti menjaga diri sebaik-baiknya. Jika ombak sedang tinggi sekali, biasanya pantai ditutup untuk wisatawan.

Sekitar pukul 01.30 siang kami kembali ke Pantai Rajegwesi. Kali ini, yang mengemudi adalah Mas Imam, putra kedua Pak Supri. Sampai sana kami makan di kedai milik keluarga Pak Supri lalu mandi dan bersiap shalat. Harga makanan di pantai Rejegwesi relatif normal (tidak semahal biasanya di tempat wisata). Kami makan satu porsi mie ayam, 2 porsi popmie, dan satu kelapa utuh seharga (total) Rp36.000.

Ini beberapa tips saat berkunjung ke sana:

  1. Jika ingin menaiki perahu dan hendak bermain air di pantai, sebaiknya memakai baju renang sebelum naik perahu. Karena baju kemungkinan juga basah terkena cipratan air.
  2. Tidak perlu membawa baju ganti ke Teluk Hijau, karena tidak ada ruangan berganti pakaian di sana. Baju ganti tinggalkan saja di pantai Rajegwesi.
  3. Bawa barang secukupnya (makanan, minuman dan beberapa barang penting) dalam tas tertutup. Lebih baik jika memakai ransel.
  4. Saat di Teluk Ijo, letakkan barang di dekat tempat duduk. Jangan tinggalkan jauh-jauh karena bisa dibongkar oleh si monyet. Pastikan kunci, dompet, dan barang-barang penting lain tersimpan rapi dalam kantong dalam tas. Sebab monyet bisa mengambil barang di kantong depan dan samping tas. Bayangkan kerepotan yang terjadi jika kunci motor atau mobil dicuri si monyet!
  5. Bisa membawa tikar lipat kecil untuk alas meletakkan barang dan tempat duduk di dekat pantai.
  6. Bawa plastik sampah, sebaiknya sampah di bawa kembali ke Rajegwesi. Ada tempat sampah di Teluk ijo tapi sepertinya tidak rutin dibersihkan sehingga saat saya ke sana tempat sampah terguling dan sampah-sampah berserakan.
  7. Jika ingin lebih aman masukkan ponsel atau kamera di dalam plastik (lebih baik plastik khusus kamera atau ponsel) agar terlindung dari air dan pasir. Plastik ini juga bermanfaat untuk melindungi ponsel saat mengambil foto atau video di atas perahu juga saat tiba-tiba ombak menerjang pantai.

Jadi, kapan kamu berkunjung ke Teluk Hijau? Kalau mau ke sana bisa kontak mas Imam dulu untuk tanya cuaca dan bisa pesan perahu. Kalau butuh nomor hp Mas Imam, boleh komen atau tanya melalui email ya: aini.firdaus@gmail.com.

selamat menikmati keindahan ‘surga’ tersebunyi di Banyuwangi!

Snorkeling di Pantai Bangsring

Arti snorkeling menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah selam permukaan. Memang sesui arti kata tersebut, snorkeling adalah aktivitas mengapung di laut sambil melihat ‘isi’ bawah laut dari permukaan air melalui kacamata google. Kacamata google ini sudah didesain khusus jadi hidung kita dijepit ke dalam hingga mau tidak mau kita mesti bernafas melalui mulut. Nah, aktivitas menghirup dan membuang nafas ini akan terjadi melalui selang snorkel yang kita gigit di dalam mulut. Dengan begitu, muka kita bisa bertahan lama tanpa perlu keluar masuk permukaan air.

Ngapain, sih, pakai menjelaskan aktivitas snorkeling segala?

Ya, kan, siapa tahu ada yang belum tahu ^_^

Oke, lanjut. Jadi ceritanya, akhir pekan lalu kami sekeluarga jalan-jalan ke pantai yang berjuluk Bangsring Underwater. Dari rumah ibuku didekat kota Jajag, membutuhkan waktu 2 jam menuju sana. Bangsring sendiri berlokasi di jalan Situbondo-Banyuwangi. Ikuti saja GPS, tempatnya mudah ditemui. Tapi hati-hati saat sudah masuk ke lokasi, sebelum menuju pantai, kita akan diminta belok kiri oleh GPS. Ikuti saja petunjuk tersebut, sebab jika kita nekad lurus malah masuk ke pantai lain dan mesti bayar retribusi Rp10 ribu. Saat saya di sana ada seorang ibu yang mengeluh pada penjual hotdog, “Ternyata pengelola pantai yang sana (si ibu menunjuk arah pantai sebelum Bangsring) beda dengan yang sini, ya, pak? Saya tadi sudah masuk sana dan bayar Rp10 ribu, eh ternyata bukan Bangsring yang saya tuju!”

“Iya, pengelolanya memang beda, bu. Kalau masuk sini, mesti bayar lagi. Banyak yang kesasar ke sana, sudah bayar, masuk sini harus bayar lagi karena beda pengelola,” jawab si Bapak penjual hotdog.

Retribusi masuk Bangsring sangat murah, hanya Rp5000 per orang. Sebelum masuk area, pengunjung wajib memakai masker dan mencuci tangan. Setelah membayar tiket kita akan disambut taman yang rindang. Ada aula luas di depan, juga beberapa gazebo kecil bagi pengunjung yang ingin duduk-duduk santai. Sebelum sampai pantai kita akan menemui bangunan kecil dengan jaket-jaket pelampung di sampingnya. Di sini tempat kita menyewa peralatan snorkeling.

Berikut biaya sewa alat dan jasa

Pelampung dan alat snorkelingRp 30 ribu
Sewa jasa guideRp 40 ribu
Sewa kamera bawah lautRp 150 ribu

catatan: jaket pelampung tersedia untuk semua usia, bahkan anak balita. Sebaiknya semua anggota keluarga mencoba jaket pelampung dan google terlebih dulu untuk memastikan ukurannya cocok. Oya, bisa juga menyewa jaket pelampung saja tanpa google dnegan harga yang lebih murah.

Tak jauh dari sana, terlihat laut biru terharmpar luas. Pasir di pantai ini berwarna hitam berbatu. Hati-hati saat Anda melangkah tanpa sandal karena terkadang ada batu runcing yang bisa melukai telapak kaki. Di pantai ini, kita bisa main pasir dan berenang. Di sekelilingnya juga banyak kedai makanan.

Saya biarkan dulu anak-anak main pasir dan berenang. Setelahnya kami sewa alat dan bersiap snorkeling! Saya memutuskan menyewa jasa guide karena kami bawa tiga anak (dua di antaranya berencana snorkeling). Menurut pengelola, guide juga akan menunjukkan spot-spot menarik. Saya jadi tergoda menyewa kamera guide juga akan membantu mengambil foto bersama ikan-ikan dan terumbu karang. Wah, asyik!

Petualanganpun dimulai. Kami membayar ongkos naik perahu sebesar Rp5 ribu per orang. Lalu kami menuju dermaga, dan menaiki kapal ke rumah apung yang berjarak kurang lebih 20 meter dari pantai. Di rumah apung ada beberapa ruangan untuk duduk-duduk santai. Di sekelilingnya terlihat ikan-ikan berenang jinak, sebagian mengerubungi potongan-potongan roti tawar yang dilempar pengunjung. Roti tawar tersebut memang sengaja disediakan pengelola seharga Rp10 ribu per bungkus.

Kami bersiap snorkeling. Pak Ipin, pemandu kami, menjelaskan penggunaan kacamata google.

“Tarik karetnya ke belakang kepala, pastikan rapat. Setelah itu turunkan kaca menutupi mata dan hidung. Lalu bagian yang ini (pipa snorkel) dimasukkan ke dalam mulut dan gigit. Selama snorkeling jangan bernapas menggunakan hidung. Nafasnya pakai mulut seperti ini,” ujar Pak Ipin sambil menyontohkan cara memasang kacamata dan bernapas mulut menggunakan snorkel. (snorkel adalah set pipa udara berbentuk J)

Lalu kami masuk ke air bergantian.

Tiba-tiba ada yang sesenggukan. Lili menangis. Rupanya dia takut. Padahal sejak semalam sebelumnya dia yang paling bersemangat dan tidak sabar bersnorkeling pertama kali. Saya minta Lili tenang dan menunggu di atas bersama ayah dan Ihsan.

Saya dan Sofie turun dan langsung snorkeling. Wuih, kami langsung disambut ikan-ikan. Ikan yang jumlahnya banyak yakni ikan biru bergaris, Pak Ipin menyebutnya ikan ‘sersan’. Lalu ada satu dua ikan berukuran besar, pipih, berwarna putih, bernama Pomacentrus amboinensis. Selain itu banyak jenis ikan lain yang saya tidak tahu namanya. Sayang, ya. Kubayangkan, akan lebih menarik jika pengelola memiliki daftar ikan (disertai gambar) di perairan Bangsring. Mungkin nggak perlu semua jenis ikan, tapi ikan-ikan yang jumlahnya banyak dan relatif sering ditemui saat snorkeling. Jadi pengunjung bisa mengetahui beberapa jenis ikan tersebut. Jika ada informasi tambahan tentang masa hidup, habitat, dan lain-lain tentu lebih menarik. Jadi pengunjung bisa sekalian belajar ekosistem perairan. Mungkin ke depan bisa dikembangkan model pengelolaan wisata edukasi seperti ini.

Rasanya tak bosan-bosannya melihat ikan-ikan yang hilir mudik. Sepertinya di sekitar rumah apung ini lautnya relatif dalam, hingga tidak terlihat dasar laut dan terumbu karangnya. Saat tidak terlihat ikan, tidak terlihat apa-apa. Sofie, setelah snorkeling becerita, kalau dia merasa canggung dan takut saat snorkeling. Tak heran jika dia menempel dan terus memegang tangan saya. Maklum ini juga pengalaman pertama dia snorkeling.

Di awal-awal Sofie juga kesulitan bernapas pakai mulut. Karenanya berkali-kali kacamatanya berembun atau kemasukan air.

“Apalagi jika cemas dan takut, rasanya sulit konsentrasi bernapas menggunakan mulut,” kata Sofie.

Selain menikmati pemandangan ikan-ikan yang hilir mudik, Pak Ipin juga mengajari kami menyelam singkat, dengan berpegangan di tangga rumah apung. Saya melepaskan pelampung dan snorkel, lalu menyelam singkat sambil memberi makan ikan. Jadilah foto yang ciamik bersama ikan-ikan yang menawan.

Petualangan berlanjut dengan berenang ke area yang memiliki terumbu karang mempesona yang berjarak kurang lebih 5 meter dari rumah apung. Di sana jelas sekali terumbu-terumbu karang beraneka bentuk dan warna. Sayang sekali tidak ada program eduksi untuk mengenali jenis terumbu karang dan namanya. Seandainya sebelum snorkeling pengunjung bisa melihat jenis-jenis terumbu karang, bentuk dan warnanya tentu akan lebih menarik. Jadi sembari melihat-lihat kita bisa mengenali terumbu karang yang keras dan lunak, yang bentuknya lebar, runcing, dan lain-lain.

Di spot yang penuh terumbu karang kami juga melakukan penyelaman singkat. Pak Ipin mengajari tekniknya. Kami tahan napas, didorong masuk ke dalam air, lalu pegangan tali dan pengait yang ada di dasar laut, lalu melihat-lihat terumbu krang dari dekat, berfoto, dan kembali ke permukaan. Saya cuma bisa menyelam singkat, mungkin hanya 1 menit atau lebih sedikit di kedalaman sekitar 5 metar. Rasanya telinga sudah sakit. Tidak terbayang, ya, kejadian kapal Naggala 402 yang berada di kedalaman 800 meter lebih. Tapi pengalaman menyelam singkat itu sungguh berkesan. Betapa dunia bawah laut itu penuh misteri namun memesona. Ingin rasanya menyelam lebih lama dan menikmati keindahan bawah laut lebih luas.

Selanjutnya kami berenang di laut, bermain dengan ikan-ikan, melihat ikan hiu jinak di ‘kolam’ berukuran 3×3 meter. Ihsan dan Lili senang sekali memberi makan ikan. Lili yang awalnya menangis, saya bujuk untuk berenang. Begitu merasakan asyiknya berenang di laut, dia malah enggan berhenti. Setelah puas snorkeling dan berenang di skeitar rumah apung, kami kembali ke pantai dan anak-anak menikmati main pasir dan berenang lagi.

Beberapa tip jika ingin ke Bangsring Underwater:

  1. Datanglah lebih awal. Lokasi buka jam 7.30 pagi. Pekan lalu saya datang jam 8.30 pagi dan masih relatif sepi. Baru ada sekitar 3 mobil di parkiran. Di masa pandemi seperti sekarang, penting memastikan lokasi wisata tidak terlalu ramai dengan tetap menghindari kerumunan.
  2. Jika memiliki alat snorkeling, lebih baik bawa sendiri. Terus terang saya rada takut dengan proses desinfekstan alat, meskipun pengelola sudah memastikan hal tersebut.
  3. Jika sudah terbiasa snorkeling dan tidak menyewa kamera, mungkin tidak perlu memakai guide, jelas akan menghemat biaya. Namun pastikan mencari informasi spot-spot menarik.
  4. Saat mandi dan berganti baju pilih kamar mandi yang depan di dekat loket pembayaran. Di sana relatif tidak antri, kamar mandinya juga bersih. Di area belakang, di dekat laut juga ada kamar mandi tapi kemungkinan besar antri karena mayoritas orang yang berenang di laut memanfaatkan toilet di sana.
  5. Area tidak terlalu luas, jadi barang yang tidak diperlukan segera, seperti baju ganti, bekal makan yang berat, ditinggal di mobil saja. Jadi bisa santai saat berenang, menyeberang ke rumah apung, dan bermain di pantai tanpa harus direpotkan barang bawaan.

Secara umum, Bangsring Underwater sangat layak dipertimbangkan sebagai destinasi wisata keluarga. Biayanya murah namun pelayanannya tidak murahan. Yuk, agendakan, ke sana!

Melawan Rasa Takut

sumber gambar: dreamstime.com

“I learned that courage was not the absence of fear, but the triumph over it. The brave man is not he who does not feel afraid, but he who conquers that fear.

Nelson Mandela

Umumnya manusia memiliki ketakutan akan sesuatu. Jenis ketakutan itu berkembang sesuai usia dan pengalaman yang dihadapinya. Bayi biasanya merasa tidak aman jika berada di lingkungan asing. Misalnya dia biasa tinggal di rumah yang tenang, tidak banyak suara, saat dibawa ke tempat yang ramai dan bising si bayi akan menangis karena merasa takut dan tidak aman. Penelitian yang dilakukan Andy Field dari Sussex University di Inggris menguatkan hal ini. Menurutnya, ada kesamaan pola ‘ketakutan’ yang dimiliki tiap anak pada usia yang berbeda. bayi takut akan lingkungan yang tidak biasa dihadapinya, seiring bertambah usianya mereka cenderung takut pada hewan tertentu dan hal-hal supranatural seperti hantu. Di atas umur delapan tahun anak mulai khawatir dengan hal seputar dirinya, misalnya mengalami cedera atau kecelakaan. Sedangkan anak remaja umumnya takut dengan masalah sosial seperti dianggap aneh atau ditertawakan oleh teman sebayanya.

Apa yang terjadi saat kita merasa takut?

Profesor Joanne Cantor dari Universitas Wisconsin Amerika Serikat pernah meneliti tentang sekelompok orang yang masih dibayangi rasa takut dari sebuah film yang sudah lama mereka tonton. Dari pemeriksaan MRI terlihat ada bagian dari otak, disebut amigdala, yang sangat aktif. Aktifnya amigdala ini memicu respon tubuh berupa detak jantung meningkat, tekanan darah naik, muncul keringat dingin dan timbul dorongan untuk melawan atau lari. Perasaan ini juga memicu hipokampus yakni tempat otak menyimpan ingatan hingga rasa takut akan muncul kembali jika menghadapi hal sama.

Tidak heran jika ketakutan itu berulang. Tiap kali kita menemui pemicu rasa takut, sekejap saja rasa ngeri akan menjalari diri. Tengkuk merinding, degup jantung meningkat, keringat dingin mengalir dan kaki tiba-tiba terasa lumpuh. Perasaan itu akan terus menerus kita alami, sampai kita berhasil mengalahkan rasa takut tersebut.

Rasa takut karena trauma masa lalu biasanya lebih susah diatasi karena ingatan yang sudah terpendam lama. Ingatan itu begitu membekas hingga merembet tidak hanya pada hal yang menyebabkan trauma, bahkan hal ”sederhana’ yang berkaitan dengannya. Contohnya mereka yang trauma karena pernah tenggelam di laut jadi takut berenang. Tidak hanya berenang di laut, mandi di sungai kecil atau bahkan di bak mandi (bath-up) akan membuat tidak nyaman.

Jika level ketakutan itu sudah begitu dalam, perlu dipertimbangkan untuk menemui psikolog. Dengan konsultasi dan terapi, ketakutan bisa ditelusuri dan pelan-pelan diatasi. Mungkin butuh waktu tidak sebentar, namun ada harapan untuk dilawan. Bahkan bukan tidak mungkin jika suatu saat rasa takut tersebut dapat ditekan serendah mungkin.

Untuk ketakutan-ketakutan yang tidak akut, kita bisa lawan sendiri. Salah satu caranya dengan menemukan sumber penyemangat dari diri sendiri maupun cerita atau pengalaman orang lain. Seperti pengalaman yang kurasakan baru-baru ini.

Sejak kembali ke Indonesia, aku takut menyetir mobil. Bayangan jalan-jalan kecil yang sempit, motor-motor yang berseliweran, kadang tidak bisa diprediksi, membuat ngeri. Aku takut menyenggol motor ibu-ibu (padahal aku juga seorang ibu pemakai motor) apalagi kalau ibu tersebut membawa anak kecil. Aku khawatir menyenggol mobil orang lain yang kadang diparkir di jalan dan sebagainya. Rasa takut itu membuatku selalu menunda keinginan untuk latihan menyetir, sampai hampir dua tahun kami kembali ke Indonesia.

Namun akhir-akhir ini aku merasa kebutuhan menyetir makin tinggi. Kadang ada acara yang kalau ditempuh menggunakan motor terasa jauh dan melelahkan. Jika naik go-car ongkosnya juga lumayan besar. Akhirnya aku memaksa diri untuk kembali menyetir.

Hal yang selalu kuingat adalah pengalaman menyetir selama 4 tahun di Amerika. Aku yakinkan diri kalau sebetulnya aku ini bisa menyetir. Aku ingat-ingat cerita teman tentang mereka yang awalnya takut menyetir, lalu memaksa diri dan akhirnya terampil juga. Aku tumbuhkan niat, bahwa kalau terampil menyetir mungkin aku bisa membantu teman-teman lain, misalnya ketika pergi ke alamat yang sama setidaknya bisa memberi tumpangan 2-3 orang.

Ternyata cara itu cukup efektif. Pekan lalu adalah pertama kalinya aku menyetir kembali. Saat pertama menginjak pedal, jantung berdegup kencang, keringat dingin mengalir, badan dan tangan kaku sekali memutar kemudi. Tapi terus aku lawan rasa-rasa itu. Sepanjang jalan ke RS Mitra keluarga Cikarang (kebetulan mau cek telinga yang beberapa hari terasa super gatal dan berdengung) tak henti aku rapalkan doa dan shalawat. Tiap papasan sama truk tronton jangungku berdegup lebih kencang 🙂 Perjalanan yang hanya 20-an menit serasa berjam-jam. Saat akhirnya berhasil parkir di RS, dan duduk di dalam menunggu giliran, rasanya lega sekali. Meskipun saat ingat nanti pulang mesti nyetir kembali, jantung kembali berdebar-debar.

Saat pulang dari RS, hujan deras. Tantangan menyetir bertambah. Ditambah lagi, mendadak aku lupa cara mengaktifkan wiper (untuk membersihkan kaca mobil dari air hujan). Tak lama kemudian aku salah belok alias kesasar. Panik, khawatir, takut menjadi satu. Akhirnya aku mencari tempat aman dan menepi. Lalu bertanya ke satpam arah yang benar, kemudian menelpon suami untuk memastikan cara mengaktifkan wiper. Masih dengan perasaan yang campur aduk, aku menyetir pelan-pelan, sampai…akhirnya sampai rumah dengan selamat. Meskipun saat masuk rumah, kaki masih gemetaran dan sekujur tubuh terasa pegal-pegal seakan menempuh perjalanan berjam-jam. Haha.

Setelah itu, ajaib sekali. Dua hari kemudian aku menyetir lagi. Dan perasaan takut itu sirna dengan sendirinya. Tiba-tiba seperti otomatis saja, respon mengurangi kecepatan, belok kanan, belok kiri, mundur. Truk besar, bus, mobil-mobil lain, sepeda motor tidak lagi terasa menakutkan. Bahkan aku sudah memberanikan diri melewati jalan yang lebih sempit dan ramai.

Oya malam sebelum menyetir yang kedua itu aku nonton episode baru “The Good Doctor S4”. Salah satu ceritanya ada seorang pasien yang sejak umur 8 tahun mengalami skoliosis atau tulang belakangnya melengkung mirip huruf C. Setelah 10 tahun mengalami kondisi tersebut, ada peluang dia dioperasi dan sembuh. Awalnya dia semangat namun menjelang jadwal operasi tiba-tiba dia mundur karena takut akan konsekuensi kalau dia benar-benar sembuh. Dia takut tidak bisa berlaku ‘normal’ seperti orang umum. Dia takut tidak bisa beradaptasi seperti orang kebanyakan. Singkat cerita Dr Glassman mengingatkan si pasien akan cita-citanya untuk hidup normal juga perjuangan mencari ‘dokter gila’ yang mau ambil risiko melakukan ‘operasi edan’ yang peluang keberhasilannya tergolong rendah. Hingga akhirnya si pasien memutuskan jadi operasi, dan dokter-dokter yang turut bertugas jadi terinspirasi untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya mereka takuti.

Sepertinya ada efeknya juga aku menonton episode tersebut. Jika dibandingkan dengan ketakutan-ketakutan yang selama ini mendera seseorang, misalnya saja trauma karena Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), ketakutan akibat teror atau kerusuhan, dan sejenisnya yang begitu dalam dan akut, ketakutan ‘menyetir’ serasa tidak ada apa-apanya. “Masak, sih, mengalahkan ketakutan ‘sekecil’ ini saja aku tidak mampu?” tantangku pada diri sendiri.

Entah ada kaitannya atau tidak, yang jelas, saat hari ini aku kembali menyetir, alhamdulillah sudah tidak takut lagi. Keterampilanku memang belum kembali 100% tapi rasa tenang dan percaya diri sudah kembali. Dengan keyakinan yang kuat insya Allah keterampilan bisa kita latih. Tanpa rasa takut, kita akan menempuh kemajuan. Dan percaya atau tidak, kemampuan mengalahkan rasa takut itu membuat BAHAGIA.

Dan kutipan dari Nelson Mendela baru benar-benar kurasakan: “Saya belajar bahwa keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, tetapi kemenangan atasnya. Orang pemberani bukanlah dia yang tidak merasa takut, tetapi dia yang mengalahkan rasa takut itu.”

Ke Puncak Telomoyo pake Jip

Di masa pandemi korona seperti sekarang, mesti pinter-pinter milih tempat wisata. Aku biasanya memilih tempat wisata outdoor, lokasinya luas, tidak terlalu banyak orang dan minim interaksi dengan pengunjung lain. Berkunjung ke Gunung Telomoyo, Magelang, Jawa Tengah, memenuhi kriteria ini.

Lokasinya mudah dicari, tinggal ketik ‘Gunung Telomoyo’ di GPS dan ikuti petunjuk yang ada di sana, kita akan sampai di parkiran wisata. Saat keluar dari mobil, seorang laki-laki menghampiri kami dan menyodorkan pamflet berisi informasi harga paket menyewa jip ke puncak gunung Telomoyo. Tertera 3 pilihan paket, Paket siang antara jam 9 pagi sampai pukul 15.00 WIB Rp 350 ribu, paket sunset Rp 550 ribu dan paket sunrise Rp 750 ribu. Kami datang saat siang hari, otomatis pilih paket pertama.

Kami pun membayar Rp 350 ribu untuk sewa jip dan Rp 20 ribu untuk tiket masuk 2 orang dewasa. Lalu naik jip yang kapasitasnya 4 dewasa dan pas untuk kami sekeluarga (ayah ibu dan 3 anak). Mulailah perjalanan yang menyenangkan, melewati area pertanian, hutan pinus dan pohon-pohon lain yang aku tidak tahu namanya. Kadang jalannya jelek jadi jip berguncang-guncang, kadang mulus. Di tiap belokan pak supir akan membunyikan klakson untuk memberi tahu kendaraan dari arah yang berlawanan.

Di sepanjang perjalanan kami mengobrol tentang pemandangan yang kami lihat. Lili berkomentar mengenai udara pegunungan yang dingin. Kami membahas telinga yang terasa tersumbat saat berada di ketinggian.  Juga saling menduga jenis-jenis hewan berdasar suara yang kami dengar. Sesekali kami berfoto, baik di dalam jip maupun saat berhenti di lokasi dengan pemandangan bagus.

Setelah kurang lebih 30 menit perjalanan sampailah kami di puncak. Sayang sekali pas berkabut. Pemandangan tidak jelas. Jalanan dan pemandangan sekitar memutih. Udara terasa dingin dan lembab.

Kami mampir di sebuah kedai dan pesan pop mie. Saat anaka-anak menunggu makanan, aku inisiatif jalan-jalan sendiri. Ada sebuah tanjakan dengan tangga menuju sebuah pemancar yang dikelilingi pagar terkunci.

Sampai di tangga paling atas, terlihat jalan tanah memutar ke arah samping pemancar. Aku pun memberanikan diri menapaki jalan tanah tersebut sambil berpegangan di pagar pamancar. Kita mesti ekstra hati-hati karena tidak ada pengaman di sekitar jalan tanah yang dikelilingi lereng curam tersebut. Tidak terlihat seorang pun di sekitar. Sempat terlintas di benakku, kalau sampai terpeleset lalu jatuh ke lereng, tidak akan ada orang yang tahu dan pasti butuh waktu lama untuk mendapatkan pertolongan.

Jalanan tanah, sempit, dikelilingi lereng curam yang ditumbuhi aneka tanaman itu mengingatkanku akan jalan-jalan setapak yang biasa kutapaki saat masih sering mendaki. Sayang pemandangan sekitar dipenuhi kabut. Pasti akan tampak indah saat cuaca cerah.

Setelah istirahat sebentar, duduk di batu sambil menikmati suasana dan mengambil beberapa foto aku kembali ke kedai menemui mas Sigit dan anak-anak. Tampak 2 pengunjung lain baru datang dan tengah menikmati kopi. Kami sekeluarga lalu menikmati mie dan beberapa camilan yang kami  bawa dari rumah.

Lili dan Ihsan asyik bermain, Sofie menikmati mie dan kami mengisi waktu dengan mengobrol. Terkesan rugi, naik ke puncak gunung hanya untuk makan mie dan duduk-duduk. Tapi entah mengapa, aku menikmati sekali kesempatan tersebut.

Jika dibandingkan dengan perjalanan kami ke Bromo tahun lalu, mengunjungi Telomoyo terasa lebih berkesan. Mungkin karena anak-anak sedang bersemangat dan mereka juga menikmati suasana. Sementara saat ke Bromo, anak-anak mengantuk dan rewel karena ‘dipaksa’ mengikuti jadwal kami orang dewasa yang ingin melihat matahari terbit dari ketinggian. Karena tidak menikmati suasana, kemungkinan besar mereka juga tidak ingat kalau sudah pernah menaiki Bromo.

Saat di puncak Telomoyo, pemandangan memang tidak terlihat karena dipenuhi kabut. Tapi anak-anak terlihat menikmati perjalanan. Mereka merasakan mengendarai mobil di jalanan yang berliku. Mereka melihat aneka pohon dan tanaman di gunung. Mereka menghirup udara segar, melihat kabut  dan awan yang terasa begitu rendah. Mereka mendengar kicauan burung dan suara serangga. Mereka menikmati mie panas, yang pasti terasa lebih lezat dibanding saat menyeduh makanan yang sama di rumah. Mereka duduk di kedai yang terbuat dari bambu, merasakan semilir angin pegunungan yang dingin dan menikmati waktu bersama keluarga.

Jika kurenungkan lagi, hal-hal kecil dalam hidup seperti ini yang justru lebih berharga. Sekadar makan mie di puncak gunung, ngobrol ngalor ngidul dengan mas Sigit, melihat Lili dan Ihsan bercanda, membuat hati terasa penuh. Dan untuk membuat anak-anak senang tidak melulu harus dengan mainan mahal atau liburan mewah.

Tahu nggak? Lili dan Ihsan tertawa-tawa hanya karena makan kuaci bunga matahari! Lili mengupas kuaci buat Ihsan, lalu dia meminta Ihsan mendongak sambil membuka mulut. Kemudian Lili menjatuhkan kuaci ke mulut Ihsan. Tiap kali kuacinya jatuh ke lantai, baik Lili dan Ihsan terbahak. Lalu mereka akan memulai lagi proses dari awal. Lili mengupas kuaci, ihsan mengambil posisi, Lili menjatuhkan kuaci ke mulut Ihsan, tapi terlewat, kuaci jatuh ke lantai dan mereka tertawa-tawa lagi. Begitu sederhana!

Saat kami memutuskan turun, kabut masih memenuhi puncak. Udara makin dingin dan mendung mulai tebal. Awalnya jendela jok belakang jip dibuka, baru 5 menit perjalanan pak supir menawarkan menutup jendela karena rintik hujan mulai terasa. Tepat setelah kami melanjutkan perjalanan usai menutup jendela mobil, hujan turun deras sekali. Ihsan minta dipeluk, Lili yang kali ini duduk depan bersama ayah, juga merapatkan diri. Pengalaman baru kembali dirasakan anak-anak. Menuruni lereng gunung sambil mengendarai jip, di tengah hujan deras dan sesekali petir menggelegar. Jalanan basah dan pemandangan tertutup kabut. Kami melewati banyak warung yang dipenuhi pengunjung bermotor yang berteduh. Tidak berapa lama Ihsan, Lili dan ayah tertidur. Sofie masih mencari posisi yang enak untuk tidur sementara aku masih menikmati suasana. Bagaimana bisa suasana yang seakan tidak menguntungkan ini malah terasa sempurna?

Kering Kentang

Bahan:

1 kg kentang (kupas dan potong korek api)

150 gr kacang tanah kupas

3/4 butir jeruk nipis, ambil airnya

70 ml santan

100 gr gula pasir

2 sdt garam ato secukupnya

2 lembar daun salam

Bumbu halus (blender semua bumbu bersama santan)

3 buah cabe merah

5 siung bawang putih

4 cm lengkuas

¼ sdt terasi (optional)

Cara:

  1. Kentang: potong2, iris tipis (pake serutan), cuci 3-4 kali sampe gak keruh lagi, lalu rendam air dingin. Goreng dalam minyak banyak sampe kering kuning keemasan, tiriskan dan angin2kan sampe dingin, masukin toples. Campur kentang dan kacang goreng, aduk merata, sisihkan.
  2. Panasin teflon/wajan, masukkan bumbu halus yang sudah diblender bersama santan. Masukkan daun salam, gula, garam dan air jeruk. Masak dengan api kecil sambil sesekali diaduk hingga kental (JANGAN SAMPE BERAMBUT). Matikan api, tunggu sampai setengah dingin.
  3. Campur bumbu dengan kentang kacang sekaligus sambil diaduk2 dengan cepat (pake sendok kayu dan spatula) hingga bumbu merata. Tebarkan di nampan plastik, angin2kan hingga dingin, simpen di toples.

Diadaptasi dari resep ini: https://www.pinterest.co.uk/pin/782289397744023303/