Jalan-jalan ke Malaysia dan Thailand

Ceritanya tahun 2012 aku bersama suami dan 3 teman melakukan backpaking perdana ke Malaysia, Singapura dan Thailand selama 12 hari. Nah, agaknya teman-teman kantor terinspirasi dengan perjalananku itu. Lalu ibu Direktur Ummi meminta aku merencanakan perjalanan ke Malaysia dan Thailand selama 5 hari.

Continue reading “Jalan-jalan ke Malaysia dan Thailand”

Jalan-jalan ke Boston

Postingan 19 November 2016

Kemarin setelah 14 jam nyetir dari Norfolk, meskipun sempat 3 jam tidur di Rest Area, tetap aja sampai hotel, tepar. Padahal kami sudah sempat gantian nyetir, iya sih banyakan tetap suami. Tapi, kan, aku udah bisa bantuin nyetir sejam dua jam. Hehe. Cuma sempat cari makan di Halal Crown Fried Chicken, jalan-jalan sebentar di sekitar US Constitution, ceck in hotel, tidur!

Aku cuma istirahat satu jam, 6 jam berikutnya menyelesaikan kerjaan nulis dan ngedit naskah. Judulnya sih jalan-jalan, tapi masih ada utang 1 naskah, enggak ada ceritanya minta dispensasi, terpaksa lembur hingga dini hari. Si Ayah dah tepar sejak sore, anak-anak nonton TV bentar, Si Sofie batuk-batuk terus kena radang tenggorokan, alhamdulillah jam 10 sudah pada tidur, dan aku masih lembur. Oh my…

Alhamdulillah internet hotel lancar jaya. O ya masih ada masalah charger laptop ketinggalan di rumah, untung ada Chrome ayah. Dan syukurnya, menjelang jam 12 tengah malam tulisan beres, lalu browsing destinasi untuk jalan-jalan esok hari dan..tidur lelap sampai pagi.

Pagi ini agak buru-buru ke tempat konferensi ayah di Marriott Copley Square. Seneng deh pergi pagi-pagi, cuaca masih segar, jalanan enggak macet, tapi luar biasa dingin. Anak-anak dah pake jaket winter. Suasana musim gugur di Boston lebih terasa. Daun-daun berwarna kuning, oranye dan merah. Taman-taman kota tertutup daun maple kering, kecokelatan. Meskipun suhu sekitar 48 F (sekitar 9 C) orang-orang msh pada semangat joging. Ada kali 20 an orang yang kulihat sedang lari pagi di sekitar taman.

Sampai Copley Square cari parkiran, terus jalan menuju Marriott. Mampir sebentar ke cvs beli obat batuk buat Sofie. Alhamdulillah habis minum obat, agak baikan dia. Sekitar Copley square ini asyik banget tempatnya. Banyak destinasi menarik yang jadi jujugan para pelancong. Tadi kami melewati Copley square, Trinity Church, Old South Church dan Boston Public Library yang bangunannya masih klasik dengan arsitektur memesona. Mampir sebentar jeprat jepret sambil ngejar waktu biar nggak ketinggalan konferensi.

Sampai Marriott, istirahat sebentar, mas Sigit lanjut ikut konferensi, aku dan anak-anak jalan-jalan sendiri. Kami ke Mapparium. Mapparium ini semacam globe raksasa lalu kita masuk ke dalamnya. Ada jembatan kecil dengan kapasitas 20 an orang. Kita masuk lalu mendengar penjelasan tentang peta raksasa ini. Menarik sekali. Mapparium ini dibangun sejak 1935 jadi peta dunia yang dipakai juga peta lama. Indonesia belum ada, nama yang ada di peta itu, Nederland, Batavia, Celebes, Somatra. Korea belum ada. Alaska belum masuk wilayah Amerika. Tur berlangsung selama 20 menit. Sayang sekali ada larangan untuk motret dan merekam dalam bentuk video. Tapi menurutku sih cukup menarik, Sofie dan Lili masih pingin di dalam saat tur sudah selesai. Dari mapparium kami mampir ke air mancur yang banyak burung merpatinya. Sofie yang udah ngeluh karena jalan jauh langsung lupa dengan keluhannya karena asyik ngejar dan ngasih makan burung merpati. Kepikiran mau mampir Boston Public Library tapi capek banget, akhirnya balik ke Marriott.

Sisa hari ini kami habiskan di Marriott, nonton film tentang Mesir dan Syiria. Terus datang ke Middle East book fair, cari info scholarship tentang middle east dan program bahasa Arab yang ternyata banyak banget. Keluar Marriott jam 6 jalan2 lagi di sekitar Copley, beli double chocolate cookies yang enak banget tapi mihil  kelaparan dan kehujanan, perpaduan kondisi yang membuat kangen indomie. Akhirnya browsing asian grocery, ternyata lokasinya deket banget dengan Copley square. Jadilah kami mampir ke C-Mart buat beli Indomie dan telur. Sampai hotel, masak indomie dan membuat tulisan ini ini. Jauh-jauh ke Boston, ujung-ujungnya makan indomie juga…xixixi

 

Islamic Society of Boston Cultural Centre (ISBCC)

Posted on November 23, 2016

On Saturday night, we visited the ISBCC. It was a vast and beautiful masjid. When we arrived, a brother said salam and gave us the necessary information about the prayer room for sisters, restroom, etc. I don’t know how he recognizes the newcomer, maybe because our face was not familiar in this masjid.

Not like usual masjid which divides the room between women and man, women can pray together with the man in the same place without any border here. However, they dedicate the third floors for women only. I guess if they have the event with many people or if there is a sister who feels not comfortable enough to do prayer in the same room with the man, they can use that room. At that night, all sisters and I did Isha prayer behind the brothers in the main room.

Before prayer, I talked with some sisters. They just finished the Quran/tajweed class with Syeikh. Sofie and Lily made friends quickly with other children. My husband also has a good conversation with several brothers. They were friendly with new people and welcoming us with hospitality.

After prayer, we tried some food and beverages in the cafeteria. That’s what I ever imagine about masjid in America. The place that we can spend our time with friends with joyful and also enjoy the halal food every day!

Moreover, they also have an Islamic store that opens every time. We can find any hijabs, Islamic books, prayer mats, many Islamic accessories, perfumes, and small groceries like sugar, honey, candy, snacks, etc. Nice store with a kind shopkeeper!

Almost forget, they also have an Islamic School in this building! For pre-K until 7th grades. And Islamic youth community too.

We enjoyed our time in this masjid. And I think this masjid can be an excellent prototype masjid everywhere. Hope in the future ODU masjid can serve people as good as theirs!

 

Sisi Lain Pulau Tidung

Postingan Juni 2012

tidung
Selamat Datang di Pulau Tidung

Pulau Tidung, salah satu desa wisata di Kepulauan Seribu. Sudah 3 kali aku mengunjungi tempat ini dalam 2 tahun terakhir. Terakhir kesana hari jumat (22/6) lalu, bersama 3 teman kantor untuk survey kegiatan Ummi dan Annida di sana.
Saat di kapal Muara Angke-Tidung, aku bertemu dengan seorang bapak berusia 40-an tahun, pegawai kecamatan di Tidung. Pak Ardi, sebut saja begitu, mengawali percakapan dengan penjelasan mengenai pelabuhan baru di Muara Angke.
Asal tahu saja, pelabuhan yang berada di dekat pom bensin pasar Muara Angke merupakan pelabuhan lama. Beberapa bulan terakhir, pemerintah sudah membangun pelabuhan baru di Muara Angke juga. Lokasi persisnya, setelah pasar ikan dan sebelum gerbang pelabuhan lama, belok kiri dan susuri jalan sekitar 2 km. Pemandangan di kanan kiri jalan sangat tidak sedap. Karena penuh sampah dan ikan asin yang sedang dijemur. Namun saat sampai di pelabuhan, kesan kumuh itu langsung hilang. Berganti dengan bangunan baru dengan warna cat yang masih jelas. Di tepi laut bersandar sekitar 5-7 kapal fery yang terlihat bersih.

“Semua penumpang di fery mendapat tempat duduk, mbak. Tapi kapasitasnya terbatas. Mungkin 1 kapal hanya sekita 100-150 kursi,” ucap Pak Ardi.

Dengan kapasitas yang terbatas tersebut, jelas tidak bisa memenuhi kebutuhan angkutan untuk wisatawan yang berkunjung ke Tidung. Bayangkan, untuk satu hari saja saat weekend pengunjung Tidung bisa mencapai 7 ribu orang. Apalagi kapal fery di pelabuhan baru tak bisa di-booking alias semua calon penumpqng harus datang dan megantri didepan loket. Tak heran jika biro travel yang melayani wisata ke Tidung lebih suka memberangkatkan klien mereka melalui pelabuhan lama. Karena di pelabuhan lama ada puluhan kapal kayu dengan kapasitas 100-200 orang. Hingga bisa dipastikan semua terangkut. Bahkan para pemilik travel sudah biasa menyewa 1 kapal khusus untuk tamu-tamu mereka. Padahal suasana di sekitar pelabuhan lama juga jauh dari kenyamanan. Air limbah di sepanjang jalan dan bau ikan yang mnyengat membuat semua calon penumpang kapal terpaksa menutup hidung.
Sepertinya memang masih menjadi PR bersama untuk menciptakan fasilitas publik yang bersih dan nyaman.

Lalu iseng saja aku bertanya, “Bapak punya usaha travel?”
“Dulu saya punya, mbak. Tapi hanya bertahan 2 tahun. Karena ada yang bertentangan dengan hati dan akidah saya, usaha saya tutup,” jawabnya.

Naluri ingin tahuku langsung muncul. Lalu kutanyakan lebih detil apa maksud dari jawaban tersebut.
Ternyata, yang dimaksudkan pak Ardi adalah peluang-peluang terjadinya maksiyat dari bisnis pariwisata. Misalnya dia tidak pernah benar-benar bisa mengontrol apakah penginapannya dihuni oleh orang yang berjenis kelamin sama atau tidak. Jika ternyata beda jenis, siapa juga yang menjamin mereka tidak melakukan hal-hal yang melanggar aturan agama. Belum lagi tuntutan melayani konsumen, misalnya si guide yang harus menemani tamu, yang seringkali melanggar waktu shalat.
“Sekarang sudah biasa pas waktu shalat jumat remaja dan para lelaki di Tidung masih di jalan atau di laut menemani tamu. Padahal dulu, kalau ada seorang lelaki yang masih di jalan saat shalat jumat, dia pasti malu. Karena semua orang disini saling mengenal,” tambahnya.
Aku langsung takjub. Selama ini aku tidak memikirkan semua itu. Sebagai tamu, ya, aku nikmati saja perjalanan dan fasilitas. Tapi betul juga kekhawatiran yang Pak Ardi rasakan. Sudah selayaknya seorang muslim yang baik memikirkan semua hal itu.

Aku jadi ingat, saat berlibur ke Tidung pertengahan Maret lalu. Saat itu aku juga jengah, dimana-mana ketemu gadis muda bercelana pendek. Bahkan lebih parah lagi, saat snorkeling kelompok kami digabung dengan kelompok lain yang salah satu dari mereka memakai bikini two pieces saat berenang. Aduh..gimana, sih, rasanya. Kalau kamu bersama teman-teman laki-laki dan perempuan, sementara di antaramu ada yang berpakaian seperti itu. Pastinya risih, kan, walaupun mungkin sebagian dari kita akan bilang “Ah, cuek aja. Yang penting, kan, nggak saling ganggu.”
Oke, kondisi-kondisi seperti ini memang tidak bisa benar-benar kita hindari. Tapi tidak juga kita biarkan begitu saja, kan?

Aku suka jalan-jalan ke mana saja. Aku suka berenang, snorkeling dan semoga suatu saat bisa diving. Dan biasanya anak-anak akan ngikutin kebiasaan atau kesukaan orangtuanya. Nah, bagiku ini jadi masalah buat anak-anakku nanti. Alangkah kasihannya anak lelakiku jika dia kuajarkan untuk menjaga diri dari melihat aurat perempuan, sementara saat dia berlibur justru ‘disuguhi pemandangan’ seperti itu. Kalau mau nyari pantai yang ‘aman’ dimanakah?apakah artinya kami sekeluarga tidak bisa berlibur ke pantai untuk menghindari kondisi itu? Susah, kan?

Aku nggak tahu apakah orangtua lain juga memikirkan hal ini. Namun aku berharap di masa yang akan datang, akan lebih banyak pilihan untuk konsumen. Mungkin akan ada tempat wisata yang lebih ‘rapi’…sebgaimana sekarang sudah ada hotel syariah yang punya aturan lebih ketat pada tamu. Dan terbukti bahwa hotel syariah itu tetap punya segmen tertentu.
Kupikir ke depan perlu ada pengembangan tentang tempat wisata syariah yang tentu tetap menyuguhkan hiburan namun dengan ‘pagar’ nilai-nilai syariah. Tak ada salahnya, kan, berharap..Ini juga bisa menjadi peluang bisnis. Ayo, siapa tertarik membuka biro wisata ‘syariah’?